SUKAIKU - Wajah mereka cemberut. Sinar itu kembali padam. Bibir-bibir itu mengumpat. Sipenyalur sinar bernama PLN itu sedang sakit. Entah sakit jiwa atau sakit sombong monopoli, mungkin.
Lembaran rekening pembayaran sinar itu tergantung dipaku dinding. Tampak sia-sia. Tak telat bayar. Tak nunggak bayar. Sinar itu 3 jam sehari bahkan terkadang lebih, bagai menjauh menghilang.
Sakit terasa saat sinar itu menggelayut dilampu rumah tetangga. Sementara dirumah mereka gelap.
“PLN kita sakit ya ?” Tanya bocah di antara remang kegelapan malam kepada orang tuanya. Orang tuanya tak menjawab. Makin terasa sepi karena selimut kegelapan. Lilin diatas meja mulai meredup. Remang kegelapan semakin membuat kuduk ikut meremang. Bocah itu memeluk erat orang tuanya.
Satu jam berlalu,hawa kegelapan mulai terasa panas. Koran bekaspun jadi kipas. Si orang tua mulai geram. Dia mulai tak tahan menahan gejolak dihati.
“Dasar PLN sakit-sakit, ga punya otak da taunya mereka kalau anakku mau belajar !”teriakan keluhan itu terdengar ke dinding-dinding rumah tetangganya.
Tetangganya yang kehilangan sinar ikut teriak. “Setan itu PLN aku gak pernah telat bayar listrik tapi begini balasannya !”Teriakan mereka yang kehilangan sinar dimalam itu mulai bersahut-sahutan.
Sementara sitetangga lain yang masih bersinar rumahnya hanya tersenyum. Kemudian senyum itu menghilang saat giliran rumahnya tiga jam kemudian kehilangan sinar.
Bulan demi bulan berlalu, janji-janjipun juga berlalu. PLN tetap sakit dan menganggap mereka yang butuh sinar hanya angin lalu.
(Kuterbitkan di siarsyair.blogdetik)